Para Pengkhianat Arsenal dan Chelsea, di Klub Mana Lebih Sukses?

0
4
Para Pengkhianat Arsenal dan Chelsea, di Klub Mana Lebih Sukses?
dinasty-poker

Para Pengkhianat Arsenal dan Chelsea, di Klub Mana Lebih Sukses?
Para Pengkhianat Arsenal dan Chelsea, di Klub Mana Lebih Sukses?

Gilabola.com – Sejumlah pemain pernah berpindah kesetiaan di antara kedua klub London, Arsenal dan Chelsea. Di klub manakah David Luiz, Cesc Fabregas, Olivier Giroud, Nicolas Anelka dan Ashley Cole lebih sukses?

Derby London bakal memanaskan partai final Piala FA yang akan mempertemukan Arsenal vs Chelsea di Stadion Wembley, Sabtu (1/8) malam. Kubu The Gunners saat ini diperkuat oleh mantan The Blues David Luiz, sementara penyerang veteran Brasil Willian juga dikabarkan bisa menyeberang ke Emiretas musim panas ini.

Selain keduanya, sejarah mencatat bahwa ada banyak sekali pemain yang sepanjang karir mereka pernah mengkhianati salah satu dari kedua rival London ini, tapi di mana mereka lebih sukses? Berikut beberapa di antara mereka.

Para Pengkhianat Arsenal dan Chelsea, di Klub Mana Lebih Sukses?
Para Pengkhianat Arsenal dan Chelsea, di Klub Mana Lebih Sukses?

Ashley Cole

Cole menjadi bagian dari tim The Invincible Arsenal, memenangkan tiga gelar FA Cup dan dua Premier League saat dia membuktikan dirinya menjadi salah satu bek kiri terbaik di klub, memainkan 228 pertandingan bersama Arsenal. Pada tahun 2006 ia pindah ke Chelsea dalam kesepakatan pertukaran dengan William Gallas, memenangkan satu trofi Liga Champions dan satu Liga Europa dalam 338 penampilan untuk The BluesKesimpulan: Cole lebih baik di Chelsea, selain berkembang di bawah asuhan Jose Mourinho, juga memenangi trofi level Eropa.

Nicolas Anelka

Kedatangannya senilai 9,6 miliar pada usia 17 tahun sempat dipertanyakan fans Arsenal, tapi semusim kemudian dia membuktikan dirinya dengan mencetak 17 gol. Sayang sebelum ia mencapai puncak, dia kemudian pindah ke Real Madrid pada tahun 1999 dan gagal. Sang pemain Prancis kemudian bergabung ke Chelsea pada 2007, memenangkan Sepatu Emas pada 2009 dan mempersembahkan gelar Premier League pada 2010. Kesimpulan: Anelka memenangi Sepatu Emas saat berada di Chelsea dan menjadi mitra lini depan yang mengerikan bersama Didier Drogba.

Emmanuel Petit

Arsene Wenger memboyongnya dari Monaco hanya senilai 47 miliar rupiah dan sejak saat itu dia menjadi partner luar biasa bersama Patrick Vieira di lini tengah, memenangkan dua gelar pada 1998. Sempat pindah ke Barcelona, Petit kemudian bergabung ke Chelsea pada 2001, kalah di final Piala FA melawan Arsenal pada tahun pertamanya. Serangkaian cedera lutut kemudian mengganggu karirnya dan akhirnya dilepas dengan status pemain bebas transfer. Kesimpulan: Petit menjalani karir yang jauh lebih baik selama di Arsenal dan kesulitan selama waktunya di Chelsea.

Cesc Fabregas

Didatangkan dari akademi Barcelona pada usia 16 tahun, Fabregas berkembang menjadi gelandang kelas dunia, menjadi kapten tim pada usia muda, sebelum pindah secara mengejutkan kembali ke Camp Nou senilai 574 miliar. Gagal di Barcelona, Fabregas dibeli Chelsea dan mendapatkan masa kejayaannya di Stamford Bridge, utamanya dalam kemitraan luar biasa bersama Diego Costa, mempersembahkan gelar Premier League, Piala FA, dan Piala Liga bagi klub. Kesimpulan: luar biasa di Arsenal, Fabregas menjalani masa keemasan di Chelsea dan memenangkan gelar liga.

David Rocastle

Rocastle bermain 228 kali untuk Arsenal dan mencetak 34 gol, namun secara mengejutkan dia dijual ke Leeds United setelah musim terbaiknya bersama klub oleh George Graham pada tahun 1992. Pada 1994, setelah bermain untuk Manchester City, Rocastle kembali ke London bersama The Blues. Sayang masalah cedera membatasi dia hanya dengan 29 penampilan saja dalam empat tahun di klub biru London itu. Kesimpulan: tentu saja Arsenal mendapatkan yang lebih baik dari Rocastle, yang memberikan gelar Piala Carling (EFL Cup) pada 1992.

Para Pengkhianat Arsenal dan Chelsea, di Klub Mana Lebih Sukses?
Para Pengkhianat Arsenal dan Chelsea, di Klub Mana Lebih Sukses?

Olivier Giroud

Mencetak 105 gol dalam 253 penampilan, Olivier Giroud masih diremehkan selama di Arsenal, kendati juga mempersembahkan tiga Piala FA. Penyerang Prancis itu kemudian menyeberang ke Chelsea dan sempat terpuruk pada musim pertamanya dengan hanya mencetak dua gol. Tapi kini pemenang Piala Dunia tersebut mulai menjadi idola bagi para pendukung The Bluesdengan Giroud juga membantu mereka mengalahkan Arsenal 4-1 pada final Liga Europa. Kesimpulan: karirnya masih berjalan di Chelsea sampai saat ini, tapi Giroud menikmati waktu terbaiknya saat merumput di Arsenal.

Graham Rix

Masuk pada tahun 1974, Graham Rix langsung bisa menggeser idola fans George Amstrong ke sisi kiri dan membentuk duet luar biasa bersama Liam Brady di lini tengah, serta memiliki peran krusial dalam kemenangan atas Manchester United di final Piala FA 1979. Rix kemudian menjadi manajer muda di Chelsea pada 1993 dua tahun setelah pensiun, namun krisis pemain akibat cedera memaksanya ikut kembali ke lapangan, dan laga perdananya adalah penampilan 8 menit melawan Arsenal dalam kemenangan 2-1. Kesimpulan: karir terbaik Rix tentu saja ada di Arsenal dengan mencatatkan 464 penampilan bersama mereka.

William Gallas

Ia menjadi bagian dari kesepakatan barter mengejutkan dengan Ashley Cole, usai membantu Chelsea memenangkan dua gelar Premier League dan menjadi bagian penting dalam skuad Jose Mourinho. Di Arsenal, Gallas kemudian memainkan 142 penampilan dengan 17 gol, lebih banyak dari 14 gol dalam 225 penampilan untuk Chelsea, namun gagal memenangi gelar apapun di Emiretas. Kesimpulan: Chelsea mendapatkan yang terbaik dari Gallas yang membantu mereka memenangkan dua gelar liga.

David Luiz

David Luiz di satu sisi adalah bek kelas dunia, membantu Chelsea memenangkan Premier League, dua Piala FA, Liga Champions dan dua Liga Europa. Namun versi lain dari bek Brasil sangat terekspos selama dijual di Arsenal, sering melakukan blunder dan bahkan musim ini telah lima kali memberi penalti kepada lawan, terbanyak dalam sejarah liga. Kesimpulan: kendati nanti memenangi Piala FA bersama Arsenal, tak mungkin menyamai kesuksesannya selama di Stamford Bridge.

Yossi Benayoun

Selama tiga musim di Chelsea, Benayoun lebih banyak dimainkan dari bangku cadangan, tampil hanya dalam 25 penampilan saja, mencetak satu gol dan dua assist. Namun sejujurnya karir pemain Israel ini juga tak lebih baik saat pindah ke Arsenal, juga gagal menjadi pilihan reguler, hanya bermain dalam 25 penampilan, dengan 6 gol dan 3 assist. Kesimpulan: Benayoun tak menjalani karir yang benar-benar sukses di kedua klub London. Tampil sedikit lebih baik di Arsenal, tapi memenangi Liga Europa selama di Chelsea.

Petr Cech

Cech bermain dalam 494 penampilan untuk Chelsea, membantu klub memenangi empat gelar Premier League selama 11 musim, dan mencatatkan rekor clean sheet terbanyak dalam sejarah liga dengan 202 kali. Dia kemudian menyeberang ke Arsenal pada 2015 usai kalah bersaing dengan Thibaut Courtois, namun masa-masa keemasannya sudah lewat. Cech kemudian kalah saing dari Bernd Leno pada 2018 dan kemudian pensiun setahun kemudian. Kesimpulan: tentu saja Petr Cech adalah salah satu legenda besar Chelsea dalam masa-masa kejayaan mereka menjadi kekuatan baru di Premier League.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here